Senin, 10 September 2018
02.37 Ante Meridiem
10 September , 02.37 AM,
Ia terbangun. Bahkan sebelum
jam kodok berwarna hijau yang terletak di
nakas samping tempat tidurnya membunyikan alarm. Napasnya sedikit tersengal. Walau pendingin ruangan menunjukkan angka ‘17’ dalam satuan derajat selsius, namun ia
masih saja berkeringat dan merasa sesak. Diucapkannya istighfar berulang kali. ‘mimpi buruk apa lagi barusan’, batinnya,
dengan posisi duduk dan tatapan lurus ke depan.
Dia usap mukanya sekali dengan telapak tangan, melirihkan
doa bangun tidur sambil terus merenung, dadanya naik turun.
Jumat, 24 Agustus 2018
#MariBaca (1) : Ayah - Andrea Hirata
Halo! Pernah nggak sih ngerasa
sayang sama buku-buku yang udah dibaca dan lewat gitu aja tanpa ‘diabadikan’
kecuali cuma lewat pemahaman? Dari dulu udah ngerasa gini sih, tapi mager terus
‘ngabadiin’nya karena susah cari waktu juga. Berhubung sekarang udah lebih
luang, makaaa diputuskanlah pelaksanaan niat ini: bikin ringkasan atau mindmap
konten bukunya, dan bikin ulasan atau review bukunya.
Ringkasan atau mindmapnya sih
buat saya pribadi (kecuali kalo ada yang minta, insyaaAllah saya kasih), biar
sewaktu-waktu ketika butuh materi tertentu saya tinggal baca ringkasan/mindmapnya
aja, gausah ribet-ribet cari lagi di bukunya. Nah kalo ulasannya baru deh buat publik.
Well, lewat judul #MariBaca saya akan nyoba
ngulas sedikit setiap buku yang baru aja saya baca, yaa singkat aja sih
ulasannya. Karena saya baru kepikiran ide ini belakangan ini, jadi buku-buku
yang saya baca setelah ide ini muncul aja yang bakal diulas. Harapannya sih ini
bisa ngebantu orang cari referensi buku apa yang oke buat dia baca. Untuk info,
saya biasanya baca buku-buku parenting, novel (pendidikan, romance, religi,
budaya, politik, childhood, dan sejenisnya), biografi tokoh, wanita dan
kecantikan, sastra, lingkungan dan alam, arsitektur, penataan wilayah dan kota, buku-buku religi
(sejenis yang biasa diterbitin ProU), management,
buku-buku pengembangan diri, psikologi, sejarah, sains, dan komik (yes, of
course!). ulasan-ulasan saya ini diusahakan gak spoiler kok,
jadi tenang aja hehe. Bukan berarti semua buku yang saya baca itu baiknya dibaca
juga loh ya, tapi silahkan ambil yang emang dibutuhin aja. Semoga terbantu! J
Nah untuk kali pertama, saya
bakal sedikit ngereview novel ‘Ayah’ karya mas Andrea Hirata.
Cover depan 'Ayah - Andrea Hirata'
Sabtu, 30 Juni 2018
Kindness is Contagious (2)
Selain pekat dengan aroma kebaikan, Bulan Ramadhan juga
pekat dengan hawa-hawa buka bersama. Sore itu aku memiliki agenda buka bersama
dengan teman-teman organisasi. Kami memilih tempat makan yang tidak jauh dari
kampus. Di samping harga makanannya tidak terlalu mahal, rasa makanannya pun
bisa dibilang enak. Sistem penyediaan minumnya cukup unik, pengunjung
dipersilahkan mengambil sendiri minumannya di tempat yang telah disediakan,
sepuasnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 5 lebih. Di Semarang, itu
artinya sebentar lagi azan magrib dikumandangkan. Makanan kami sudah datang,
namun belum ada satupun dari kami yang mengambil minumnya, sepertinya kami
terlalu asik berbincang. Mengingat sebentar lagi memasuki waktu berbuka, aku
memutuskan mengambil minuman untuk kami.
Selayaknya tempat makan pada umumnya di bulan puasa di
detik-detik berbuka, tempat makan inipun padat dengan pengunjung. Begitu juga
antrian pengambilan minum, padat. Aku berdiri di antrian ke sekian sambil
menyiapkan gelas-gelas yang akan kuisi. Tiba-tiba, masuklah seorang bapak paruh
baya ke dalam rumah makan. Beliau
mengenakan baju koko berwarna hijau telur asin yang sedikit lusuh, peci putih
kain, dan celana bahan. Beliau menggenggam sebuah kresek yang berisi bungkusan
nasi.
“minta minum… minta minum..”, katanya, dengan suara lemah
dan bergetar. Aku memandang si bapak dari antrianku, memerhatikan. Aku juga
memerhatikan orang-orang di sekitarnya. Wajar bila orang-orang itu memasang
wajah bingung dan hati-hati. Beberapa dari mereka bahkan menunjukkan gesture
menjauh. Pelayan rumah makan berjalan mendekati si bapak, memintanya keluar. Si
bapak tetap berdiri di tempatnya, mengulangi kalimat ‘minta minum’nya. Tetap, si pelayan menyuruhnya pergi. Bapak
tersebut berbalik ragu-ragu ke arah pintu, perlahan berjalan keluar. Aku
memutuskan keluar dari antrean, mendekati Si Bapak. “Pak, tolong tunggu di
depan sana ya, saya beliin minum.” Dengan raut wajah hampir menangis—entah
karena diusir atau karena akan mendapat minum—ia mengangguk. Aku menghampiri
meja kasir yang sekaligus menjadi tempat pemesanan, memesan minuman untuk dibungkus.
Aku diam berdiri, menunggu pesananku di sebelah meja kasir. Sambil menunggu,
sesekali kutengok jendela besar di sebrang sana, memastikan Si Bapak masih
menunggu di depan rumah makan. Benar saja, ia menunggu sambil menunduk,
memandangi bungkusan nasinya. Entah kenapa ada setangkup rasa sedih saat aku
melihatnya. Tak berselang lama, pesananku sudah siap. Seorang pramusaji
menyerahkan segelas plastik minuman padaku.
“bayarnya boleh agak nanti mbak? Uang saya di meja yang
sana.”, kataku. Pamusaji tersebut mengiyakan.
Aku pergi ke arah pintu keluar, menghampiri Si Bapak. Aku
tau, pramusaji itu masih memerhatikanku. Ya, pramusaji yang juga meminta Si
Bapak keluar. Sesampainya di luar, kuserahkan minuman tersebut kepada Si Bapak.
Setelah berterimakasih, ia pamit pergi. Masih dengan muka seperti ingin
menangis, membuatku merasa semakin sedih. Aku kembali mengantri, lebih tepatnya
mengulang antrian. Tiba-tiba, pramusaji yang tadi megusir bapak itu, yang juga
melayani pesananku, yang juga memerhatikan gerak-gerikku, menghampiriku.
“Mbak, minumannya gausah dibayar”, katanya.
Aku mengarutkan kening, namun tersenyum.
“oh gitu? Makasih ya mbak..” kataku.
“iya mbak..” balasnya, ia kembali bekerja.
Aku diam,
memandangi lantai yang persis di bawahku. Memikirkan kejadian yang baru saja
terjadi, membuat senyum di hatiku semakin merekah. Tuh kan, bukan cuma cacar aja
yang menular, tapi kebaikan juga.
Hal-hal seperti ini—berbuat sesuatu lalu orang lain merasakan
dampaknya—mungkin sering kutemui atau
kualami, sejak dulu. Bahkan sejak aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Namun
dulu ya terlewatkan begitu aja. Tanpa banyak proses berpikir, merenung, mencoba
mengambil ibrah atau pelajaran di baliknya. Yaa, namanya juga anak kecil.
Semakin ke sini, semakin banyak hal yang membuatku berpikir.
Kadang membuatku harus mengerutkan dahi, kadang membuatku tersenyum takjub,
kadang membuatku tersipu malu, kadang membuatku sama sekali tak mengerti. Dari yang
dulunya aku tidak perduli, kini banyak hal-hal yang tidak bisa membuatku tidak
perduli. ‘Dunia berubah’, pikirku. ‘Dunia berubah. Sekarang orang-orang hobi
banget ngomongin nikah, akun baper betebaran dimana-mana. Perang pemikiran juga
semakin gila. Perebutan kekuasaan dimana-mana. Dulu nggak gini kayanya. Dulu
dunia gak serumit gini.”
Lambat laun aku sadar, sebenarnya dunia sama sekali tidak
berubah, tapi cara pandang kitalah yang
semakin bergeser. Entah bergeser ke sesuatu yg lebih baik, atau sebaliknya. Dari dulu, udah banyak kok
yang ngomongin nikah, dari dulu udah gencar kok yang namanya perang pemikiran, perebutan
kekuasaan, dan hal-hal semacam itu. Bedanya, dulu aku tidak perduli. Apalah perdulinya
anak umur 10 tahun dengan urusan nikah menikah dan berbagai konspirasi dunia.
Ya, dunia sama sekali tidak berubah. Kalaupun ada beberapa
hal yang belum pernah ada sebelumnya, itu hanya di cara, bukan prinsip. Dulu memukul
sendiri, namun karena perkembangan teknologi, sekarang tinggal pencet tombol
sudah bisa memukul. Intinya kan sama: memukul.
Semakin lama hidup, semakin banyak hal yang tadinya mungkin
terlihat biasa dan wajar di kacamataku, kini tidak.
Seperti halnya ketika aku mudik lebaran tahun ini. Entah
kenapa terasa banyak sekali yang berbeda. Sepupu-sepupu laki-lakiku, yang dulu masih bisa kucubit bahkan
kupeluk, sekarang aku sudah harus
menjaga jarak dengan mereka. Pun dengan batasan auratku di depan mereka, bertambah. Rasanya, waktu itu masih cempreng saja suara mereka, masih tidak malu berlarian ke sana ke
mari, menabrak ini dan itu.
Sekarang, merinding aku mendengar
suaranya. Suara bariton yang besar dan berat pun akrab terdengar ketika mereka
berbicara. Jakunnya sudah jelas terlihat naik dan turun ketika mereka
bercerita.
Mungkin sebenarnya perubahan ini sudah mulai bisa kulihat
dari tahun-tahun sebelumnya. Ya, hanya kulihat. Tapi baru tahun ini kurasakan,
dan itu membuatku banyak berpikir dan merenung.
Jangan jauh-jauh ke sepupu, adik (yang kupikir masih) kecil
laki-lakiku saja seperti itu, namanya Hafiz. Dia, yang rasanya baru saja
kuantar masuk pesantren tempo hari, sudah sangat kurasakan perubahan fisiknya
di liburan kemarin. Cepat sekali ia menjadi ‘laki-laki’ L
Tahun ini aku dan adikku yang paling tua, Fauzan, diizinkan
bapak mengunjungi bunda kami yang tinggal di luar kota dengan menggunakan mobil. Ini kali pertama
kami berdua diizinkan keluar kota mengendarai mobil. Mungkin sekilas itu
terlihat biasa. Tapi bagiku tidak. Bukan karena mobilnya, tapi karena itu
menandakan sebuah perubahan cara pandang orangtua kami terhadap kami. sepanjang
perjalanan, hatiku sesak dengan perasaan syukur, haru, dan trenyuh. Ternyata orangtua
kami menganggap kami sudah sedewasa ini.
Jika sudah berdua begini, pembicaraan kami tidak seringan
dulu. Berbagai hal tentang hidup, cara pandang masing-masing tentang banyak
hal, pendapat masing-masing mengenai sebuah isu, dan rencana masing-masing
untuk masa depan kerap mewarnai percakapan kami. Sesekali sama-sama diam,
merenungkan yang baru saja kami obrolkan, untuk kemudian dilanjut lagi entah
dengan topik yang sama atau loncat membahas hal lain. Sungguh dulu aku sama sekali
tak menyangka akan begini isi obrolan kami.
Sesampainya di rumah bunda, si kecil sovi sudah menunggu
kami di depan gerbang, siap menghambur ke pelukan salah satu dari kami yang
keluar lebih dulu dari mobil. Ingin rasanya kugendong anak itu, tapi……..ah,
ternyata sovi sudah bukan adikku yang kecil lagi. Berat dan tingginya kian
bertambah. Aku tidak senyaman dulu lagi memangku dan menggendong sovi karena
bobot tubuhnya. Waktu kuturunkan kembali, sovi cemberut. “Kamu berat dek”
kataku sambil tertawa. Kuacak-acak rambutnya, dia tetap cemberut karena
tidak jadi kugendong. Setelah salim dengan sovi, kami masuk ke dalam rumah,
menyapa anggota rumah lainnya.
Pun adikku yang satu lagi, Dita. Sering kudapati status di sosial
medianya mulai merujuk kepada hal-hal yang wajarnya remaja rasakan; perasaan tertarik
pada seseorang. Aku beberapa kali meringis melihatnya. Ah, kenapa gadis ini
cepat sekali tumbuh. Malah, waktu kutemui lebaran kemarin, gadis ini bahkan
hampir menyaingi tinggiku! L
Entah kenapa, disamping perasaan bahagia, ada setumpuk rasa
sedih menyadari hal-hal kecil ini.; Fauzan yang sudah semakin kritis
pemikirannya, Hafiz yang semakin ‘laki-laki’, Dita yang semakin terlihat ‘gadisnya’,
Sovi yang sudah bukan anak kecil lagi. Aku terpaksa harus menerima kenyataan bahwa mereka bukan adik-adik kecilku lagi. Ah, waktu..
Lalu kupandangi diriku sendiri di cermin. Adakah juga sama; adakah berubah. Namun gagal, tidak kudapati perubahan signifikan secara fisik.
Sejurus kemudian aku tersadar, bukan itu yang berubah. Namun
hal yang lebih mendasar, hal yang akan menggiring arahku di hidup ini; caraku
memandang.
Di bulan Juni kali ini, banyak hal yang membuatku semakin ‘terbangun’.
Selain kesempatan bertemu banyak anggota keluarga di lebaran kemarin dan
memerhatikan mereka satu per satu, bulan ini juga umurku bertambah menjadi 22.
Bagiku, itu bukan angka yang sedikit untuk ukuran umur anak
manusia. Maksutnya, bukan masaku lagi setidakperduli dulu. Banyak hal-hal di
sekelilingku yang menunggu kontribusiku, sesedikit apapun yang kupunya.
Bulan ini juga aku sidang, lebih tepatnya kemarin. Yes, I’am
unofficially being Mulia Fajri Ichzani S.Ars.
Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah selalu, yang
menyampaikan diri di titik ini. Titik yang bukan akhir, justru awal dari
banyak hal. Gerbang, kata mereka. Dengannya, aku semakin ‘dibangunkan’. Sungguh
aku Muli yang bukan lagi waktunya bermain di got depan rumah, menangkap belalang
di halaman sekolah, atau diam-diam minum es walaupun dilarang ibu. Sungguh aku
Muli yang sudah berhak menentukan sendiri akan ke mana hidupku ini dibawa. Dan fakta
itu bukan hal yang sepele, bukan hal yang bisa dianggap kecil.
Ohiya, terimakasih banyak untuk semua pemberi barang-barang
ini di hari sidangku kemarin ya. Baik yang datang langsung ke sidang, nitip lewat teman, langsung mendatangi kosku, atau bahkan mengirimkan via paket ke kos karena tidak bisa ke Semarang. Terimakasih J
Ada 1 hadiah yang paling membuatku jatuh cinta. Hadiahnya cantik banget sampe aku ngerasa kalah cantik :’) hahaha #SiapaJugaYangBilangLuCantikMul #Pffft
Rangkaian bunga pinus, yang ternyata dirangkai sendiri oleh pemberinya.
Biarpun gak tertulis nama pemberinya, tapi aku tau ini dari siapa haha.
Hey, terimakasih untuk bunga yang tidak pernah matinya, ya :)
Biarpun gak tertulis nama pemberinya, tapi aku tau ini dari siapa haha.
Hey, terimakasih untuk bunga yang tidak pernah matinya, ya :)
Terimakasih banyak juga untuk semua yang mendoakan ya, baik yang menyampaikan secara langsung, menyampaikan lewat surat, maupun melayangkan diam-diam. Semoga semua kebaikan yang didoakan terkabul dan berlaku juga untuk yang mendoakan. Aamiin allahuma aamiin.
Terimakasih, terimakasih J
.
.
.
.
Ngomong-ngomong, nyadar gak sih cuma bagian awal tulisan ini yang nyambung sama judulnnya? Haha sengaja :p
biar gak ketauan-ketauan banget kalo ini tulisan menggalaukan diri yang semakin tua wkwkwkwk
biar gak ketauan-ketauan banget kalo ini tulisan menggalaukan diri yang semakin tua wkwkwkwk
Well, di penghujung Juni ini, aku berharap semoga diri ini dan yang membaca selalu Allah
limpahkan kasih sayang, ridha, dan rahmat-Nya..
Selasa, 01 Mei 2018
Selasa, 03 April 2018
Kindness is Contagious.
Seorang temanku terkena diare, penyakit yang baru seumur
hidup kurasakan beberapa bulan lalu. Aku tau rasanya sungguh menyiksa. Seseorang
yang terkena diare dipaksa mengeluarkan apapun yang ada di perut. Biarpun sudah
tidak ada apa-apa lagi, tetap ia diminta mengeluarkannya. Hingga pada satu
titik, ketika perutnya sudah habis dikuras, dia praktis hanya akan mengeluarkan
air, air, dan air. Aku paham betapa
ngilunya mengidap diare.
Maka, kuputuskan untuk menjenguk temanku itu. Membawakan beberapa
hal yang kurasa bisa membantu menyembuhkan atau setidaknya membuat keadaannya
lebih baik. Aku bawakan yoghurt karena
bisa membunuh kuman penyebab diare, minuman isotonik karena membantu
mengembalikan cairan yang hilang, dan salak karena kabarnya dia mampu menyumbat
keinginan buang air.
Di toko buah, nampak salak yang tersisa tinggal sedikit. Mungkin
1,5 kilo lagi.
“Bu, ini berapaan harga salaknya?”
“7 ribu sekilo neng”
Aku mengambil keresek dan memasukan beberapa buah salak
untuk kemudian ditimbang.
“Cuma segini? Ini gak nyampe sekilo neng”, kata si ibu
penjual begitu salak-salakku ditimbang.
“iya bu nggakpapa. Ini buat orang sakit kok, jadi nggak
perlu banyak-banyak. Jadi berapa bu?”
“3500 neng”
Aku memberikan uang 5000. Setelah menerimanya, si ibu
membuka-buka tasnya, tampak mencari-cari sesuatu, sepertinya kembalian.
“oh gausah bu, gausah kembali gakpapa”
“looh neng. Yowis kalogitu sini sini”, si ibu menarik
kembali keresek salakku, seluruh salak sisanya diimasukin juga ke dalam keresek
salakku. Kini salaknya habis tak bersisa.
“ini, dibawa aja semua gakpapa..”, jelas si ibu.
“loh bu jangan, sayang. Ini lumayan kalo dijual bu..” aku
berusaha menolak karena merasa tidak enak.
“wis ndakpapa. Dibawa aja..”
Aku tersenyum dalam hati. Setelah berterimakasih, aku
berpamitan pergi.
Benar nyatanya, kebaikan itu menular. Kindness is
contagious.
Jumat, 09 Maret 2018
Entahlah, Readers Bebas Menentukan Judul Postingan Ini.
Halo, blogspot. Udah lama banget ya kamu nggak kutengokin. Apa kabar?
Akhir-akhir ini lagi heboh beberapa akun Tumblr yang diblokir sama keminfo, dalihnya sih karena mengandung konten2 negatif. Padahal, kalo kuperhatiin, beberapa akun Tumblr yang kena blokir itu isinya jauh dari macem-macem bahkan banyak yang bermanfaat.
Tapi aku main ke sini bukan karena Tumblrku juga diblokir. Terakhir ku cek, dia baik-baik aja. Aku cuma kangen kamu haha, aku cuma pengen luapin sesuatu yang kurasa ini nggak layak dibaca banyak orang, lagipula kayanya gak ada ibrah yang bisa diambil wkwk. So i decided to go here, just to wreak out my feelings.
Beberapa hari belakangan ini, aku sering main lagi sama temen-temen lamaku. Temen-temen yang dari aku masih bandelnya bandel banget pas maba haha. Lama gak gabung sama mereka, belakangan ini banyak kabar mereka yang aku baru tau. Salah satunya adalah beberapa di antaranya baru aja putus sama pacarnya. Itu bukan kabar yang bikin kaget sih. Tapi gimana mereka putus dan gimana perlakuan si laki-lakinya ke mereka pasca putus itulah yang bikin aku sedikit tertekan.
Dulu, para lelaki ini maniiiiiissss minta ampun ke temen2ku itu. Temenku mau ke sana ditemenin, ke sini ditemenin, kemana-mana dianterin, mau ini dikasih, mau itu dikasih, dan sebagainya. Omongannya apalagi, kayanya gula tuh kalah manis deh sama omongan mereka. Perempuan mana sih yang gak percaya kalo digituin. Di saat temen-temenku itu lagi percaya-percayanya, para laki2 itu ternyata 'main' sama yang lain. Kalo bahasa umumnya, 'selingkuh'. Sebenernya aku gak suka kata 'selingkuh', terdengar norak dan kampungan -_-Aku gak akan cerita gimana mereka itu selingkuh dan gimana ketauannya.
Mungkin karena terlalu sayang atau gimanalah, temen-temenku itu masih aja maafin. Tapi para laki2 itu ngulang lagi, dan mereka maafin lagi, gitu terus pokoknya. Aku bukan tipe perempuan kaya mereka yang bisa mentolerir orang ketiga. Mungkin kalo aku di posisi mereka, udah dari pertama kali dia ketauan aku gak akan nerusin hubungan lagi walau kalo untuk memaafkan jelas iya. Untuk urusan ini, aku tipe perempuan yang 'forgiving, but not forgetting'.
Salah satu di antara laki2 itu, waktu dia udah berkali-kali ketauan, malah ngasarin temenku. Temenku dipukul. Laki-laki loh gais, tapi berani-beraninya mukul perempuan. Tangan temenku sampe biru-biru. Aku gak paham lagi dimana letak kelaki-lakiannya. Ditambah lagi fakta bahwa dia yang salah tapi malah dia yang marah bahkan mukul, bikin aku tambah mempertanyakan kelakiannya. Aku benci dan marah banget waktu denger ceritanya. Tapi gemesnya, temenku masih aja maafin dan lanjutin hubungannya walau udah 'dianiyaya' kaya gitu. Tapi namanya juga manusia, punya titiknya sendiri. Akhirnya pada satu kesempatan temenku udah gak kuat dan minta putus.
Setelah putus itulah, mulai keluar aslinya si laki2 itu. Kayanya temenku gak ada hari tanpa dimaki-maki. Temenku ditelponin terus, cuma buat 'dianjing-anjingin'. Kayanya semua kosa kata kasar yang ada di dunia ini dia lontarin ke temenku yang notabene mantan pacarnya. Pernah, sekali-kali aku yang ngangkat telponnya karna temenku udah gak kuat. Jawaban si laki2 itu ke aku, "gua bukan mau ngomong sama lo anj*ng.". Aku kaget, kenapa dia diciptakan Allah sebagai laki-laki, yang padahal seharusnya melindungi dan memimpin, tapi samasekali gak pantes memerankan peran itu.
Beberapa hari setelahnya, barang-barang temenku yang ketinggalan atau pernah dipinjem si laki2 itu, dibalikin sama tu orang. Waktu dibuka, semuanya rusak. Lebih tepatnya dirusak. Kaos-kaos dan kemeja temenku diguntingin. Gambar-gambar yang pernah temenku buat, dirobekin. Lampu belajar temenku yg pernah dia pinjem dirusak juga. Aku gak ngerti kenapa ada orang sesakit gini, kayanya tu laki2 butuh dirukyah. Begitu juga kurang lebih yang terjadi sama temenku yang putus lainnya. Semua laki2 itu drastis berubah 180 derajat.
Pada saat yang bersamaan, aku juga lagi dipinjemin sebuah buku sama temenku, karyanya Buya Hamka. Isinya tentang beberapa cerpen yang menggambarkan permasalahan hidup sehari-hari yang kadang manusia luputkan di tengah hiruk pikuk kesenangan dunia. Bukunya bagus banget, aku suka bahasanya walau kadang harus mikir dulu. Banyak, banyak banget pelajaran yang bisa kuambil darinya. Beberapa di antaranya tentang rumah tangga. Klise sebenarnya, permasalahan rumah tangga yang berakibat pada perceraian. Entah itu karena si perempuannya berbudi kurang baik lah, atau si laki-lakinya berubah setelah sekian tahun pernikahan lah, atau salah satu di antara mereka seronglah, atau yang serupa lainnya.
Aku tumbuh di tengah-tengah karamnya sebuah rumah tangga, jadi sungguh nggak asing lagi sama hal-hal kaya gini. Tadinya, kupikir tumbuhnya aku di keluarga yang bercerai adalah modalku untuk nggak mengulangi 'kebodohan' yang pernah dilakukan orang-orang dewasa itu. Tadinya, kupikir itu bisa jadi bekalku untuk lebih kuat menghadapi apapun yang Allah takdirkan di pernikahanku kelak. Tadinya.
Tapi lama-kelamaan aku takut, setelah beberapa kali denger cerita dari ibu laundryku tentang beliau yang bermasalah dengan suaminya juga keluarga suaminya, setelah denger cerita dan menyaksikan sendiri temen2ku yang bermasalah sama pacarnya, setelah baca rentetan karyanya Buya Hamka, aku justru semakin takut.
Iya, lama2 aku takut sama keterikatan hubungan dengan laki-laki. Enggak enggak, tenang aja, bukan berarti aku malah suka sesama jenis-_- Ketakutanku lebih cenderung menimbulkan kehati-hatian. Aku memilih seseorang untuk jadi pendamping hidupku nanti pasti karena dalam batas pengetahuanku yaa dia baik. Baik di sini maksutnya luas ya, mencakup adil, tenang, sabar, dan segala macam sifat dan sikap positif lainnya. Tapi aku kan nggaktau, apakah dalam sepuluh duapuluh tahun ke depan dia masih dia yang kunilai 'baik' waktu aku memilih dulu. Lambat laun, mataku nggak seger lagi, kulitku nggak mulus dan kencang lagi, senyumku nggak semantap waktu dia memilihku. Setiap bangun tidur, yang diliatnya aku. Keluar kamar mandi, yang diliatnya aku. Begitu terus sampe puluhan tahun. Gimana kalo dia bosen, terus perlahan berubah? Gimana kalo di luar sana dia bertemu seseorang yang jauh lebih baik? Dan masih banyak 'Gimana kalo' lainnya. Pertanyaan-pertanyaan bodoh semacam ini terus berulang beberapa hari belakangan ini. Sampai aku sempet mikir, 'apa gausah nikah ya?'. Astagfirullah..
Gimana bisa aku sempet kepikiran gausah nikah padahal dengannya lah setengah agamaku lengkap. Gimana bisa aku sempet kepikiran gausah nikah padahal dengannya lah aku bisa menggapai salah satu citaku, yaitu melahirkan dan mendidik para tentara-tentara Allah. Gimana bisa aku sempet kepikiran gausah nikah padahal dengannya lah aku bisa masuk surga lewat pintu manapun.
Maka pertanyaan2 bodoh bernada 'gimana kalo' tadi kutepis dengan berbagai doa. Aku sungguh berharap, Allah menyatukanku dengan seorang laki-laki yang sangat cinta, takut, dan harap padaNya. Laki-laki yang dimanapun berada, dia sadar bahwa Allah lah saksi perbuatan, perkataan, bahkan perasaannya. Sehingga ketika menikahiku, dia mencintaiku karena Allah, bukan hanya karena apa yang ada padaku. Sehingga ketika tiba masanya aku tak sedap lagi disentuh, dia masih sangat memuliakanku, tentu karena Allah.
Akhir-akhir ini lagi heboh beberapa akun Tumblr yang diblokir sama keminfo, dalihnya sih karena mengandung konten2 negatif. Padahal, kalo kuperhatiin, beberapa akun Tumblr yang kena blokir itu isinya jauh dari macem-macem bahkan banyak yang bermanfaat.
Tapi aku main ke sini bukan karena Tumblrku juga diblokir. Terakhir ku cek, dia baik-baik aja. Aku cuma kangen kamu haha, aku cuma pengen luapin sesuatu yang kurasa ini nggak layak dibaca banyak orang, lagipula kayanya gak ada ibrah yang bisa diambil wkwk. So i decided to go here, just to wreak out my feelings.
Beberapa hari belakangan ini, aku sering main lagi sama temen-temen lamaku. Temen-temen yang dari aku masih bandelnya bandel banget pas maba haha. Lama gak gabung sama mereka, belakangan ini banyak kabar mereka yang aku baru tau. Salah satunya adalah beberapa di antaranya baru aja putus sama pacarnya. Itu bukan kabar yang bikin kaget sih. Tapi gimana mereka putus dan gimana perlakuan si laki-lakinya ke mereka pasca putus itulah yang bikin aku sedikit tertekan.
Dulu, para lelaki ini maniiiiiissss minta ampun ke temen2ku itu. Temenku mau ke sana ditemenin, ke sini ditemenin, kemana-mana dianterin, mau ini dikasih, mau itu dikasih, dan sebagainya. Omongannya apalagi, kayanya gula tuh kalah manis deh sama omongan mereka. Perempuan mana sih yang gak percaya kalo digituin. Di saat temen-temenku itu lagi percaya-percayanya, para laki2 itu ternyata 'main' sama yang lain. Kalo bahasa umumnya, 'selingkuh'. Sebenernya aku gak suka kata 'selingkuh', terdengar norak dan kampungan -_-Aku gak akan cerita gimana mereka itu selingkuh dan gimana ketauannya.
Mungkin karena terlalu sayang atau gimanalah, temen-temenku itu masih aja maafin. Tapi para laki2 itu ngulang lagi, dan mereka maafin lagi, gitu terus pokoknya. Aku bukan tipe perempuan kaya mereka yang bisa mentolerir orang ketiga. Mungkin kalo aku di posisi mereka, udah dari pertama kali dia ketauan aku gak akan nerusin hubungan lagi walau kalo untuk memaafkan jelas iya. Untuk urusan ini, aku tipe perempuan yang 'forgiving, but not forgetting'.
Salah satu di antara laki2 itu, waktu dia udah berkali-kali ketauan, malah ngasarin temenku. Temenku dipukul. Laki-laki loh gais, tapi berani-beraninya mukul perempuan. Tangan temenku sampe biru-biru. Aku gak paham lagi dimana letak kelaki-lakiannya. Ditambah lagi fakta bahwa dia yang salah tapi malah dia yang marah bahkan mukul, bikin aku tambah mempertanyakan kelakiannya. Aku benci dan marah banget waktu denger ceritanya. Tapi gemesnya, temenku masih aja maafin dan lanjutin hubungannya walau udah 'dianiyaya' kaya gitu. Tapi namanya juga manusia, punya titiknya sendiri. Akhirnya pada satu kesempatan temenku udah gak kuat dan minta putus.
Setelah putus itulah, mulai keluar aslinya si laki2 itu. Kayanya temenku gak ada hari tanpa dimaki-maki. Temenku ditelponin terus, cuma buat 'dianjing-anjingin'. Kayanya semua kosa kata kasar yang ada di dunia ini dia lontarin ke temenku yang notabene mantan pacarnya. Pernah, sekali-kali aku yang ngangkat telponnya karna temenku udah gak kuat. Jawaban si laki2 itu ke aku, "gua bukan mau ngomong sama lo anj*ng.". Aku kaget, kenapa dia diciptakan Allah sebagai laki-laki, yang padahal seharusnya melindungi dan memimpin, tapi samasekali gak pantes memerankan peran itu.
Beberapa hari setelahnya, barang-barang temenku yang ketinggalan atau pernah dipinjem si laki2 itu, dibalikin sama tu orang. Waktu dibuka, semuanya rusak. Lebih tepatnya dirusak. Kaos-kaos dan kemeja temenku diguntingin. Gambar-gambar yang pernah temenku buat, dirobekin. Lampu belajar temenku yg pernah dia pinjem dirusak juga. Aku gak ngerti kenapa ada orang sesakit gini, kayanya tu laki2 butuh dirukyah. Begitu juga kurang lebih yang terjadi sama temenku yang putus lainnya. Semua laki2 itu drastis berubah 180 derajat.
Pada saat yang bersamaan, aku juga lagi dipinjemin sebuah buku sama temenku, karyanya Buya Hamka. Isinya tentang beberapa cerpen yang menggambarkan permasalahan hidup sehari-hari yang kadang manusia luputkan di tengah hiruk pikuk kesenangan dunia. Bukunya bagus banget, aku suka bahasanya walau kadang harus mikir dulu. Banyak, banyak banget pelajaran yang bisa kuambil darinya. Beberapa di antaranya tentang rumah tangga. Klise sebenarnya, permasalahan rumah tangga yang berakibat pada perceraian. Entah itu karena si perempuannya berbudi kurang baik lah, atau si laki-lakinya berubah setelah sekian tahun pernikahan lah, atau salah satu di antara mereka seronglah, atau yang serupa lainnya.
Aku tumbuh di tengah-tengah karamnya sebuah rumah tangga, jadi sungguh nggak asing lagi sama hal-hal kaya gini. Tadinya, kupikir tumbuhnya aku di keluarga yang bercerai adalah modalku untuk nggak mengulangi 'kebodohan' yang pernah dilakukan orang-orang dewasa itu. Tadinya, kupikir itu bisa jadi bekalku untuk lebih kuat menghadapi apapun yang Allah takdirkan di pernikahanku kelak. Tadinya.
Tapi lama-kelamaan aku takut, setelah beberapa kali denger cerita dari ibu laundryku tentang beliau yang bermasalah dengan suaminya juga keluarga suaminya, setelah denger cerita dan menyaksikan sendiri temen2ku yang bermasalah sama pacarnya, setelah baca rentetan karyanya Buya Hamka, aku justru semakin takut.
Iya, lama2 aku takut sama keterikatan hubungan dengan laki-laki. Enggak enggak, tenang aja, bukan berarti aku malah suka sesama jenis-_- Ketakutanku lebih cenderung menimbulkan kehati-hatian. Aku memilih seseorang untuk jadi pendamping hidupku nanti pasti karena dalam batas pengetahuanku yaa dia baik. Baik di sini maksutnya luas ya, mencakup adil, tenang, sabar, dan segala macam sifat dan sikap positif lainnya. Tapi aku kan nggaktau, apakah dalam sepuluh duapuluh tahun ke depan dia masih dia yang kunilai 'baik' waktu aku memilih dulu. Lambat laun, mataku nggak seger lagi, kulitku nggak mulus dan kencang lagi, senyumku nggak semantap waktu dia memilihku. Setiap bangun tidur, yang diliatnya aku. Keluar kamar mandi, yang diliatnya aku. Begitu terus sampe puluhan tahun. Gimana kalo dia bosen, terus perlahan berubah? Gimana kalo di luar sana dia bertemu seseorang yang jauh lebih baik? Dan masih banyak 'Gimana kalo' lainnya. Pertanyaan-pertanyaan bodoh semacam ini terus berulang beberapa hari belakangan ini. Sampai aku sempet mikir, 'apa gausah nikah ya?'. Astagfirullah..
Gimana bisa aku sempet kepikiran gausah nikah padahal dengannya lah setengah agamaku lengkap. Gimana bisa aku sempet kepikiran gausah nikah padahal dengannya lah aku bisa menggapai salah satu citaku, yaitu melahirkan dan mendidik para tentara-tentara Allah. Gimana bisa aku sempet kepikiran gausah nikah padahal dengannya lah aku bisa masuk surga lewat pintu manapun.
Maka pertanyaan2 bodoh bernada 'gimana kalo' tadi kutepis dengan berbagai doa. Aku sungguh berharap, Allah menyatukanku dengan seorang laki-laki yang sangat cinta, takut, dan harap padaNya. Laki-laki yang dimanapun berada, dia sadar bahwa Allah lah saksi perbuatan, perkataan, bahkan perasaannya. Sehingga ketika menikahiku, dia mencintaiku karena Allah, bukan hanya karena apa yang ada padaku. Sehingga ketika tiba masanya aku tak sedap lagi disentuh, dia masih sangat memuliakanku, tentu karena Allah.
Sabtu, 20 Februari 2016
Halo, Zet.
“Tak kenal maka tak sayang”
Ku rasa ada benarnya juga sepenggal kalimat yang sering didengar itu.
Setahun lebih ngekos, aku masih merasa ganjil dengan salah satu teman sekos, bahkan juga jurusan. Sebut aja namanya ‘Zet’. Bukan apa-apa, biarpun 1 kos, kami jarang bertegur sapa karena kesibukan masing-masing yang berbeda. Hobinya pun jauh berbeda. Paling saling menghubungi kalo emang lagi butuh. Dulu saat masih tergabung di BEM FT dan beberapa komunitas, aku jarang di kos. Paling di kos cuma buat tidur, itu juga pagi-pagi banget udah harus pergi lagi. Kalo gaksengaja ketemu, kegiatan nyapa menyapa hanya sebagai formalitas. Aku bawelnya maximal, Zet pendiem dan agak tertutup. Aku gak terlalu suka film, dia suka banget. Kayaknya hampir setiap kali teman-temannya main ke kos, mereka selalu ribut berekspresi karena nonton film, atau bahkan hanya sekedar membicarakan sebuah film. Fix makin gak nyambung aku sama dunianya. Begitu terus hingga akhirnya kami memasuki semester 4.
Setahun lebih ngekos, aku masih merasa ganjil dengan salah satu teman sekos, bahkan juga jurusan. Sebut aja namanya ‘Zet’. Bukan apa-apa, biarpun 1 kos, kami jarang bertegur sapa karena kesibukan masing-masing yang berbeda. Hobinya pun jauh berbeda. Paling saling menghubungi kalo emang lagi butuh. Dulu saat masih tergabung di BEM FT dan beberapa komunitas, aku jarang di kos. Paling di kos cuma buat tidur, itu juga pagi-pagi banget udah harus pergi lagi. Kalo gaksengaja ketemu, kegiatan nyapa menyapa hanya sebagai formalitas. Aku bawelnya maximal, Zet pendiem dan agak tertutup. Aku gak terlalu suka film, dia suka banget. Kayaknya hampir setiap kali teman-temannya main ke kos, mereka selalu ribut berekspresi karena nonton film, atau bahkan hanya sekedar membicarakan sebuah film. Fix makin gak nyambung aku sama dunianya. Begitu terus hingga akhirnya kami memasuki semester 4.
Liburan semester 3 selesai, hari baru dimulai. Aku excited banget balik ke Semarang karena libur yang kelamaan. Kangen Semarang, Tembalang, gedung pengajaran arsitektur, warna merahnya Gedung Eko Budiharjo, fasad kosku, ah banyaklah pokoknya. Aku kangen beraktivitas di Semarang.
Begitu pertama kalinya setelah libur sepanjang itu aku nyalain lampu kamar kosku…..nothing happened. Lho kok gak nyala……………….oke ini ada apa.
Begitu pertama kalinya setelah libur sepanjang itu aku nyalain lampu kamar kosku…..nothing happened. Lho kok gak nyala……………….oke ini ada apa.
Ditungguin beberapa jam, baru si lampu nyala. Tapi listriknya konslet. Kalo aku ngecas atau nyolokin sesuatu ke stop kontak, sesuatu itu bakal rusak. Kabel roll ku korbannya. AC juga error, mungkin listriknya gak kuat (fyi, di kosku listriknya per kamar. Jadi beli pulsa sendiri2). Hhhh terpaksalah aku harus numpang di kamar yg lain tiap mau ngecas sampe listrik kamarku dibenerin.
Well, kamar yang persis berhadap-hadapanlah yang membuatku (mau gakmau harus) sering numpang ngecas di kamar Zet. Dari awal aku udah tau kalo Zet ini baik banget, sayangnya emang kurang nyambung aja sama aku. Jadi udah ketebak, kalo aku izin ngecas di kamarnya, pastilah dia ngizinin. Aku mau gak mau jadi bolak-balik terus ke kamarnya. Sesekali ngobrol. Awal-awal canggung. Aku agak sungkan ngeliat matanya. Dia juga malu-malu kalo ngeliat aku. Plis jangan langsung terbayang LGBT mentang-mentang hal itu lagi hits :(
Seminggu dua minggu berlalu. Selama itu pula aku sama dia ngobrol sepatah dua patah kata yang lama-lama patah katanya makin banyak (?). Tapi listrikku belum juga dibenerin, padahal pihak kos udah janji nyariin tukang listrik dari awal aku balik ke Semarang. Hem.
Hingga suatu malam, dia ngetok-ngetok kamarku. Begitu kubukain, dia langsung duduk di kasurku. Agak kaget awalnya. Tapi sejurus kemudian terbesit perasaan senang. ‘haha kemajuan’ gumamku dalam hati. Akhirnya.
“mul, masa tadi gue blablabla…” dia mulai cerita aktivitasnya hari ini. Dia ngapain aja, apa yang di rasa, semuasemua hari ini yg mengganjal diceritain. Aku dengerin aja tanpa banyak komentar. Sesekali ngangguk, ketawa, nanggepin, bahkan balik cerita. Lambat laun topiknya jadi kemana-mana. Kita bahas tentang keluarga lah, flashback pengalam gaenak di hidup masing-masing lah, bahas masalah sama temen masing2 dan minta saran menyelesaikan masalah tsb lah, bahas LGBT lah. Sejam duajam berlalu.
Merembet ke masalah agama, yang sebenernya ini adalah topik yang harus hati-hati banget didiskusiin sama orang yang se awam Zet dan aku. Dulu, setauku dia masih jauh sama hal2 yang berbau Islam. Diskusi kita jadi sesi tuker informasi, dia cerita yang dia tau dan nanyain hal yang gak dia tau atau ragu. Aku takut-takut menjawab, benar-benar memilah kata yang baik dan sekiranya bisa diterima, bukan justru bikin dia makin anti sama Islam. Di luar ekspektasiku, tanggepan dia sangat baik. Bahkan mengiyakan dan tersirat “pelan-pelan gue bakal belajar lebih baik mul”. Aku sedikit bisa bernapas lega dan lebih santai menjelaskan.
Benar saja, makin lama malah makin tertarik. Loncat lagi, bahas masalah perasaan. 3 jam berlalu.
Benar saja, makin lama malah makin tertarik. Loncat lagi, bahas masalah perasaan. 3 jam berlalu.
“mul, lu pernah gaksih punya temen dulu di sd, smp , atau sma gitu, yang masih deket dan keep in contact sampe sekarang?”
“ada. Berdelapan. Kita ketemu di satu SMA yang sama. Ketertarikan akan banyak hal yang sama lah yg bikin kita jadi bareng terus ke mana-mana, di sekolah maupun di luar. Sampe akhirnya kita misah-misah, mencar demi masa depan masing-masing. Kalo dilogika, umumnya, kalo udah mencar-mencar apalagi di berbagai kota yg berbeda gitukan pertemanannya merenggang, sampe jarang banget ngontak karena udah ada dunia baru ya. Tapi gaktau, ini malah makin ngerasa sayang. Emang ya, semua yang dilandasi karena Allah akan bertahan...” jelasku tanpa diminta.
“maksutnya?” tanya dia.
“dulu, diantara berdelapan, yang udh kemana-mana pakek kerudung terus paling Cuma 2-3 orang. Itu juga kerudungnya masih pendek-pendek, yang disampirin di punggung gitu loh ujungnya. Cuma sekedar membungkus aurat, bukan menutup aurat. Selebihnya ya pake kalo di sekolah doang. Aku termasuk yg pake kerudung terus, Zet. Tapi yagitu. Asal-asalan, yg penting rambutnya gakeliatan….lebih tepatnya gak terlalu keliatan. Ngerti kan? Rata-rata kita berdelapan punya pacar. Yang gakpunya palingan 1 atau 2 orang. Suatu hari, salah 1 di antara kita kenal yg namanya ‘mentoring’. Tau lo mentoring itu apa?”
Zet ngangguk.
“iya. Dia mentoring. Lama-lama ngajak yang lain. Termasuk gue. Singkat cerita, semuanya mulai berubah. Yang gak pake kerudung, pelan-pelan belajar pake kerudung terus ke mana-mana. Sampe suatu hari, beberapa dari mereka janji mau pake kerudung terus. Dan bener. Gue, biarpun masih pacaran, mulai pelan-pelan ngerasa gak nyaman sama status itu. Mulai gak nyaman dihubungin terus-terusan, padahal wajar kan ya pacar ngehubungin terus. Tapi yagitu yg gue rasa. Begitu juga sama yg lain. Gak terasa, kita udah mau lulus SMA. Di situlah berbagai konflik sama pacar masing2 muncul. Yaaa di samping efek mentoring, karna emg lagi banyak pikiran juga pas kls 12, jdi rentan ribut. Singkat cerita lagi, satu per satu putuslah dengan pacar masing-masing. Kita semua resmi jomblo.
well, setelah lulus dan mencar ke mana-mana, kita masih saling ngingetin di grup line. Masih saling cerita kabar masing-masing. Bahagianya, bukan Cuma sekedar cerita, tp hampir selalu dikasih solusi. Kalopun gak ada solusi, at least disupport. Bukan Cuma sekedar ‘wah semangat ya’ atau ‘sabar ya’ yg Cuma formalitas biasa krn udah terlanjur nge’read’. Tapi berbagai kalimat-kalimat ajaib yang selalu bisa bikin bangkit lagi. Apapun, selalu dikaitin sama Allah. Bilang kalo kita masih dan akan selalu punya Allah, dan semacamnya. Itu Zet. Kurang lebih itu yang bikin gue sampe sekarang gak rela ngelepas mereka”
Zet diem. Daritadi gak lepas pandangannya dari mataku. Tumben, kemarin-kemarin dia takut-takut klo ngeliat aku.
“Liburan semester 3 kemarin, gue ketemu mereka, main. Zet, I have no idea pas gabung sama mereka. Bener-bener berubah jauh jadi lebih baik dengan tingkat keasikan yang gak berubah. Mereka tetep mereka yang gue kenal, tapi dengan setumpuk hal-hal baik yang baru. di antara kita berdelapan, ada salah satu orang, sebut aja Mawar, cantiknya bukan main, Zet. Pertama kali liat, gue gaklepas dari ngeliatin dia. Padahal gue cewek loh. Tapi serius, saking cantiknya, gue selalu suka kalo ngeliatin dia. Udah gak keitung deh berapa cowok yang berusaha deketin dia. Dulu dia termasuk yang gak berkerudung. Sempet beberapa kali ganti pacar pas SMA. It’s ok, that’s not a big problem kalo buat kita berdelapan, pada masa itu maksutnya. Lambat laun Mawar berubah, udah mulai pake kerudung, pake rok terus. Heran, bangga, dan semuanya deh campur aduk pas liat dia kayak gitu.
well, liburan kemarin-kemarin waktu dia gak sengaja inget tentang cowok yang dia taksir, dia ribut sendiri. Berulang-ulang geleng2in kepala, nunduk, istighfar berkali-kali sambil ketawa-ketawa geli sendiri. Gue ledekin,bilang ‘plis wey gausa lebay hahaha’. Dia bilang ‘ih Mika, nanti hafalan Qur’an gue ilang. Perasaan kayak gini tuh kayak MSG banget mik. Enak, bikin ketagihan, tapi bahaya’. Btw gue dipanggil Mika pas SMA. Gue bengong Zet. Sejak kapan ni manusia kayak gini…..”
well, liburan kemarin-kemarin waktu dia gak sengaja inget tentang cowok yang dia taksir, dia ribut sendiri. Berulang-ulang geleng2in kepala, nunduk, istighfar berkali-kali sambil ketawa-ketawa geli sendiri. Gue ledekin,bilang ‘plis wey gausa lebay hahaha’. Dia bilang ‘ih Mika, nanti hafalan Qur’an gue ilang. Perasaan kayak gini tuh kayak MSG banget mik. Enak, bikin ketagihan, tapi bahaya’. Btw gue dipanggil Mika pas SMA. Gue bengong Zet. Sejak kapan ni manusia kayak gini…..”
Zet masih ngeliatin gue tanpa komentar. Lama-lama gue salah tingkah sendiri diliatin gitu-_______-
“Dulu, dia sering banget upload foto di medsos, Zet. Sekarang, dia malah ngedeactive semua akun sosmednya. Gue belom nanya alesannya apa. tapi ya setau gue itu sebagai proteksi dirinya . Orang secantik dan se asik dia pasti banyak godaannya. Tapi sekarang, dia selalu berusaha jaga dirinya. Harusnya gue yang segalanya serba biasa gini dan godaannya gak sebanyak dia ya bisa lebih jaga diri. Sering, gue malu sendiri Zet kalo inget hal ini…”
Kita sama-sama diem. Bukan diem kayak dulu yang karena emang canggung gaktau mau ngomong apa. tapi tenggelam di pikiran masing-masing.
Tiba-tiba dia juga cerita beberapa ‘rahasia besar’ nya yang bikin aku beberapa kali melongo kaget. Dia minta aku buat bener-bener gak kasih tau siapa-siapa. Malu-malu mulai menceritakan. Aku dengerin sambil kaget sepanjang ceritanya.
“Mul, sekarang jam berapa?” tanyanya.
“set.12”
“hahaha gila, kita ngobrol lama banget. Jujur,gue dulu samasekali gak nyangka bakal cocok sama lo. Maaf ya, gue kira lo itu terlalu jauh dan susah dideketin. Gue mikir lo itu anak gaul yang sibuk dan gak level main sama gue yang…yaa gitulah”
“hahaha gaul. Salah gaul baru iya. Ngomong-ngomong, iya, gue juga dulu awkward banget rasanya tiap kontak sama lo”
Blablabla dan seterusnya…
finally, sesi jujur-jujuran itu terlaksana.
finally, sesi jujur-jujuran itu terlaksana.
“Mul, kapan-kapan ajak gue mentoring dong hehe”
Waw. Apa dia bilang. Tentu, Zet. Dengan senang hati :’)
Sekitar jam set.1, dia pamit balik ke kamarnya. Gak nyangka, aku bisa tahan ngobrol sekitar 5 jam nonstop tanpa keganggu gadget sama orang yang bahkan belom pernah deket sebelumnya.
Besoknya, aku ketok kamar dia karena ada keperluan, belom ada respon dari dalem tapi aku udah buka pintu duluan. Hwehehe urgent.
Guess what, Zet lagi duduk di Kasur pake mukena dan lagi baca Qur’an. Dia kaget karena ada yg masuk tiba-tiba. Aku kaget juga liat pemandangan kayak gitu. Iyalah, seorang Zet baca Qur’an :’) aku langsung pura-pura biasa aja biar dia gak malu ngelanjutin bacaannya. Mudah-mudahan ini bakal bertahan lama bahkan semakin banyak kemajuan. Aamiin..
Ternyata di balik musibah ‘listrik ku konslet’ ada hikmahnya ya. Aku jadi deket sama manusia satu itu, Zet. Mudah-mudahan ada berbagai dampak baik juga dari kedekatan kami.
Ya, ‘di balik gelap pasti ada terang’. Kata Ibu Kartini.
Mungkin sama halnya kayak nasibku yg entah ini apes apa gimana mengingat dosen pembimbing untuk perancangan arsitekturku adalah Bu X (sebut saja begitu) yang notabene hampir semua mahasiswa arsitektur menghindari dibimbing olehnya. Sosok yang lumayan keras (apalagi sama perempuan), amat sangat tidak suka keterlambatan (biasanya pas asis dan ngumpulin tugas besar), dan sangat benci sama hal-hal yang gak rapih.
Aku? Amat sangat sering terlambat dan………..jauh dari rapih.
Pertama diumumin nama dosen pembimbing masing-masing, aku deg-degan. ‘Makan tuh mul. Apakabar IPnya nanti’ gumamku dalam hati.
Bahkan sampe sekarang masih kepikiran. Yaudah, mungkin Allah pengen aku jadi sosok yang on time dan rapih…...biarpun entah teruwujud atau enggak :’)
Bhak.
Bhak.
Kamis, 11 Februari 2016
Jumat, 05 Februari 2016
Jangan Sok Jual Mahal dong Mas(?)
Jum’at, 5 Februari 2016, gue berencana main ke rumah Bunda yang di daerah Cirebon.
Dari Semarang, gue memutuskan buat naik bis yang di Terminal Terboyo. Kenapa naik bis? Karena tiket kereta yang memadai abis dan nyisa yang mahal2, waktu tibanya-pun malem, jam 10an. Sedangkan gue masih harus naik beberapa angkutan umum lagi dari stasiun ke rumah bunda. Well, biarpun tantangannya lebih, gue tetep milih naik bis.
Lumayan jauh juga kalo dari kos ke terminal Terboyo. Jadi gue pikir kalo naik taksi, gojek, atau ojek yang harganya tergantung jarak, bakalan mahal juga jatohnya. Bisa sampe 70 bahkan 100rb an. Akhirnya gue nyari jasa antar danusan mahasiswa yang biasanya relatif lebih murah krn harga udah dipatok di awal. Setelah cari info ke sana sini, dapetlah cp sebuah jasa antar jemput yang drivernya perempuan dan khusus nganter perempuan dengan harga 35000an. Nah model2 kayak gini nih yang jarang dan agak susah ditemuin. Nih poster berikut cpnya, barangkali ada yang butuh. Inget, only ladies ya haha. Dan ohya, mereka baru beroperasi di sekitar Semarang aja btw. Mari doakan mudah2an di daerah lain juga ada yang kayak gini:
Sekitar jam 8.30 AM gue dijemput sama salah satu driver Ojek Nona tersebut, namanya Mbak Prima, mahasiswi Ekonomi angkatan 2011. Baiknyaaaa dia. Padahal gue termasuk cerewet, tapi di motor malah lebih banyak dia yang cerita haha. Inilah untungnya tiap gue pake jasa antar mahasiswa: dapet temen baru.
Begitu sampe di Terminal Terboyo, gue langsung bayar ke Mbak Prima. Ternyata dia gak ada kembalian. Tiba-tiba ada mas-mas nyamperin kita, nawarin tukeran uang. Hmm.
Setelah proses bayar membayar selesai, Mbak Prima pamit pulang. Mas-masnya masih di samping gue.
“mau kemana mbak?” tanyanya.
“Cirebon” kata gue.
“oh mari-mari” dia nuntun gue ke sebuah ruangan. Relatif kosong, Cuma ada sebuah meja dan kursi juga karpet yang digulung di sebrang ruangan. Di sana bener2 sepi daerahnya. Kok terminal sepi ya…
Dia ngeluarin sebundel kertas yg kayanya bakal jadi ‘tiket’. Nanya nama gue buat di tulis di kertasnya. Berkali-kali gue nanya “berapaan mas?” tapi gak digubris. Oke, mungkin dia gakdenger.
Dia ngeluarin sebundel kertas yg kayanya bakal jadi ‘tiket’. Nanya nama gue buat di tulis di kertasnya. Berkali-kali gue nanya “berapaan mas?” tapi gak digubris. Oke, mungkin dia gakdenger.
Setelah selesai sama tiketnya, dia baru nanya “ekonomi apa patas mbak?”
“patas berapa mas?” tanya gue.
Dia mikir agak lama, semacam menimbang-nimbang. Gue juga ngebatin, ‘kok pake mikir? Bukannya udh dipatok harganya ya?’. Tapi pura-pura gak ada masalah dengan ‘sikap mikir’nya dia.
“165 rb mbak” katanya.
Kaget dong gue. Apaan ini mah gak jauh beda sama tiket kereta. “Loh mahal banget mas, bukannya gaknyampe 100rb ya?” tanya gue.
Dia ketawa. “mana ada mbak” sangkalnya.
“ekonomi deh ekonomi berapa?”
“110rb mbak”
Oke ini apa-apaan. Dulu gue pernah naik bis dri Terboyo walaupun cuma sekali, ke arah Cirebon, yaaa lupa lupa inget. Tapi seinget gue ya harganya gak sampe 100rb bahkan yang patas sekalipun. Biarpun bukan gue yang beli langsung sih.
“yaudah ekonomi deh” kata gue. Setelah proses transaksi selesai, gue izin diri buat sholat.
“mas, mau sholat, dmn ya?”
“oh di sini aja mbak” dia ke pojok ruangan, ngegelarin karpet dan segala macemnya buat gue sholat.
“barang-barang mbaknya juga bisa ditaro di sini kok. Aman-aman. Kalo udah di sini aman kok tenang aja”
Dengan sikapnya yang baik gitu kecurigaan gue berkurang. Begitu mau keluar buat cari tempat wudhu, dia ngarahin gue ke salah satu kamar mandi yang….mungkin bisa dibilang kurang layak. Oke wajar, namanya juga di tempat umum, terminal pula.
Tapi yang bikin gue heran, tu manusia nungguin gue terus selama gue di kamar mandi. Semacam takut kehilangan (?). Semacam takut gue kemana-mana.
‘ni orang kenapasi’ batin gue. Makin lama gue makin heran, gerak-gerik gue diikutin terus sama dia. Lama-lama gaktahan, penasaran ada apa. Akhirnya begitu dia lengah dikit, gue diem-diem keluar kamar mandi dan pergi ke tempat di mana bis2 diparkir. Rame. Bener-bener rame. Beda banget sama tempat yang gue datengin pertama. Kecurigaan gue makin-makin dong.
Dengan hat-hati gue nanya ke orang-orang dan aparat sekitar.
“pak, maaf, kalo mau ke arah Cirebon beli tiketnya di mana ya?” gue memastikan. Kalo orang-orang nunjukin ke arah tempat awal gue beli tiket tadi, berarti gak ada masalah. Tapi enggak, ternyata orang-orang nunjukin ke arah yang berlainan.
Sampailah gue di tempat yang katanya pemesanan tiket. Di sana ada beberapa kursi tunggu dan meja kaca yang di bawahnya jelas terpampang harga-harga tiket ke daerah-daerah.
‘CIREBON = 70RB’ tulisnya. Kaget gue saat itu juga.
Yang jaga tiket kosong, kata orang-orang di sekitar situ, dia lagi ke kamar mandi. Begitu doi balik. Gue langsung nanya “mas, ini Cirebon 70rb teh patas?”
“iya mbak” katanya. Oke fix berarti tadi gue entah diboongin entah diapain namanya sama mas-mas awal.
Gue balik lagi ke tempat pertama.
“mas. Gak jadi beli tiketnya. Ternyata saya dijemput” Ya Rabb, gue boong.
“lah gajadi? Sudah saya pesankan loh padahal kursinya mbak.”
“yaa gmn ya, saya dijemput nih”
Setelah melewati proses yang agak alot buat minta uang dikembalikan, akhirnya duit gue dibalikin tpi gak 100% karena dia blg kena charge buat rokok supir dan dirinya. Terserah mas terserah -_______-
Gue langsung keluar ruangan. Tapi matanya gak berhenti ngikutin gue terus. Ini orang kenapasi :(
“dijemputnya di mana mbak, sini saya antar” katanya nawarin diri. Gue nolak, bilang “saya bisa sendiri”. Terus-terusan matanya ngawasin gue. Gue gak enak langsung pergi ke arah tempat-tempat bis di belakang kalo dia masih ngeliatin gini, takut dia tau gue bakal mesen tiket yang lain. Di samping takut bikin dia sakit hati, malu juga gue udah boong :’/
Begitu lengah sedikit, gue langsung lari kecil ke belakang dan seberusaha mungkin gak menimbulkan bunyi apapun biar dia gaktau.
Gue lega begitu dia udah gak nampak. Langsung menuju pemesanan tiket resminya. Itu sekitar jam 09.45 AM.
“wah bis arah Cirebon baru aja brgkt jam 8 dan 9 tadi mbak. Ada lagi nanti jam set.2 mungkin”
HAIYAH. Kalo brgkt jam segitu, gue nyampe bundanya bakal malem banget.
Akhirnya gue milih bis jurusan terminal tegal yg brgktnya jam set.11, barulah di sana gue nerusin ke arah Cirebon (tegal-cirebon kuranglebih 25rb an).
Setelah mesen tiket, gue ditunjukin tempat sholat yang beneran sama mas tiket (asli) nya: sebuah masjid di terminal.
Nah ini baru tempat sholat beneran! :’
***
“di terminal emang banyak calo mbak. Kalo di sini, agen resminya Cuma “nusantara”, bedainnya bisa dari tiket: yang resmi jelas, ada cap ‘PO’ dan gambar bisnya. Kalo tiket dari calo biasanya kan polosan toh? Yang resmi jelas dari dishub, kapolsek, dllnya. Uangnya jelas masuk kemana. Kalo calo, paling uangnya masuk ke kantong sendiri” kurang lebih gitu penjelasan mas-mas di pemesanan tiket resminya setelah ditanya mengenai si calo calo. Kalo naik dari calo, berpotensi dioper-oper juga di jalan.
Bro, sist, mungkin pengalaman saya ini bisa dijadikan pelajaran kita kedepannya. Saya bukan ngelarang pake calo, isoke aja, gak masalah. Soalnya mereka kan juga cari uang, saya kurangtau ya cara mereka itu masuknya halal atau haram, saya juga gaktau itu jatohnya penipuan atau enggak. Ini cuma berbagi cerita dan sedikit info aja. Soalnya kan gak semua orang punya budget yang memadai apalagi kalo cuma buat ‘kena’ calo.
Jadi lebih hati-hati apa salahnya? Sayang ajasih, uangnya masih bisa digunain buat banyak hal yang lebih bermanfaat.
Jadi lebih hati-hati apa salahnya? Sayang ajasih, uangnya masih bisa digunain buat banyak hal yang lebih bermanfaat.
Tapi kalo emang mau berbagi rejeki ke para calo juga gak masalah kok. Barangkali dihitung sedekah dan dapet pahala juga kalo niatnya ikhlas hehe.
Nih ada beberapa info yang sekilas masih saya ingat tentang tarif tiket aslinya, barangkali berguna :
Semarang-Cirebon : 70RB
Semarang-Tegal :55RB
Semarang-Bandung :115RB
Semarang-Pekalongan : 45RB
Semarang-Pemalang : 50RB
Semarang-Jogja : 45RB
Semarang-Tegal :55RB
Semarang-Bandung :115RB
Semarang-Pekalongan : 45RB
Semarang-Pemalang : 50RB
Semarang-Jogja : 45RB
Dll dll nya lupa huhu maapya T_T
Guys, berusaha yuk lebih teiliti, jangan langsung percaya gitu aja (bedakan ya kak antara suuzon dan hati-hati hehe)
Oiya, jangan ditiru sikap boong saya di atas ya. Biarpun dalam keadaan kepepet gitu, rasanya masih kurang tepat juga saya memutuskan untuk berbohong. Mudah-mudahan Allah mengampuni. Aamiin :’
Oiya, jangan ditiru sikap boong saya di atas ya. Biarpun dalam keadaan kepepet gitu, rasanya masih kurang tepat juga saya memutuskan untuk berbohong. Mudah-mudahan Allah mengampuni. Aamiin :’
well, udah ngerti kan kenapa judul tulisan kali ini “jangan sok jual mahal dong mas” ?
Selasa, 15 Desember 2015
Mahasiswa Arsitektur.....
1. kamu tau beda lavatory sama toilet biasa2. temen kosan bilang met pagi trus kamu jawab met malem
3. kamu bawa sikat gigi di ransel kamu
4. pas ada yang nanya nomor telepon kamu, kamu kasih nomor telepon studio
5. kamu gabungin jam makan sehari yang harusnya 3x jadi cuma 1x pas sarapan aja
6. Kratingdaeng dan minuman energi lainnya adalah minuman favorit kamu
7. kamu ngebungkus kado ulang tahun temen make kertas roti, kertas mentega atau kalkir!
8. kalo ibu kamu nanya pengen beli baju atau sepatu apa buat lebaran, kamu jawab ga usah repot-repot, cukup segitiga grid, bergulung-gulung kalkir, pena 0.1-0.5, prisma color dan mistar sablon
10. kamu minum tiga cangkir atau bahkan lebih kopi espresso dalam satu malam
11. kamu dengerin lagu yang sama di radio tiga kali bahkan lebih dalam satu malam
12. kamu tau banget bedanya aroma lem UHU atau FOX
13. kamu bisa hidup tanpa sinar matahari, tanpa berkomunikasi dengan orang-orang atau tanpa makan, tapi kamu bisa mati kalau printer atau plotter kamu mendadak rusak
14. satu-satunya waktu tidur kamu pas mata kuliah umum
15. kamu ngilangin kunci rumah dan baru nyadar minggu depannya
16. kamu tidur lebih dari enam belas jam pas akhir pekan
17. kamu nari-nari kaya orang gila pada jam tiga subuh, walaupun sebenernya kamu sama sekali ga lagi mabok
18. kamu nulis apa aja pake Rotring, Staedtler atau Yoken
19. kamu expert banget kalo make Photoshop, Sketch Up, 3Ds Max sama AutoCAD, tapi kadang-kadang bodoh banget kalo harus pake Excel
20. kamu cuma ambil dua mata kuliah per hari, tapi kamu harus mempelajarinya sepanjang hari
21. kamu lebih banyak ngabisin waktu di studio daripada di rumah
22. orang tua sering komplain karena kamu kayanya kurang rekreasi
23. kamu ninggalin studio cuma buat beli peralatan gambar
24. kamu pernah ga mandi selama seminggu karena kamu pikir mandi adalah pekerjaan sia-sia, membuang waktu dan air
25. kamu sering banget bermimpi tentang maket proyek kamu
26. alih-alih denger kata supermodel, kamu malah langsung mikirin tentang model maket
27. orang tua sama adek kamu yang masih empat belas tahun bahkan punya kehidupan sosial yang lebih baik daripada kamu
28. kamu seneng banget hang out ke Home and Garden Fair.
29. kamu tau semua tempat makan 24 jam di kota kamu
30. waktu tidur temen kamu dalam satu hari kayanya lebih lama dibanding waktu tidur kamu dalam satu minggu
31. lampu-lampu jalan udah dimatiin dan kamu masih bangun
32. kamu keluar jam tiga subuh dan orang-orang pada tau kamu kemana
33. apapun yang kamu makan selalu yang praktis
35. sering kamu ngabisin weekend kamu dengan bikin tugas
36. satu-satunya bangunan di kampus yang masih terang benderang di waktu malam adalah studio
37. kamu bilang ini MASIH jam 12 malem, masih ada waktu untuk ngeberesin semua tugas
38. kamu ga menghiraukan kapan matahari terbit atau tenggelam
39. kamu nanya jam berapa ini?, temen kamu jawab jam 10 terus kamu nanya lagi pagi apa malem?
40. rasanya kamu pengen bunuh kawan sekosan kamu karena dia bilang aduh, gue abis begadang nih belajar sampe jam 12. Kampret banget ga sih ngomong kaya gitu di depan kamu yang ga tidur berhari-hari?
41. ketika ga sengaja jari kamu luka, hal pertama yang kamu pikirin adalah apa gue bisa nyelesain maket dengan tangan terluka gini?
42. kamu jadi ngerti kenapa kebanyakan arsitek tu berkacamata dan berambut putih
43. kamu nyebut nama arsitek-arsitek top dunia seolah-olah mereka temen deket kamu, eh, udah tau belom proyeknya si Tadao atau si Frank atau si Calatrava?
44. kamu bisa dengerin semua koleksi lagu kamu dalam satu malam
45. kamu lebih suka lagu-lagu yang ngingetin kamu tentang studio atau tentang proyek yang kamu kerjain
46. kamu ganti selera musik kamu ke lagu-lagu country atau ballad karena kamu udah bosen dengerin musik POP
47. merek-merek favorit kakak cewek kamu adalah Prada, DNKY, LV, dll. Kamu? Mastex, Staedtler, Pentel, Rotring
48. kamu sering gagal kalo pacaran karena ga ada satu pun orang yang mau menerima kamu atas semua yang kamu lakukan sehari-hari (pacar kalah populer dibanding denah, tampak, potongan, dll)
49. kamu tanpa sengaja suka membuat konsep susunan makanan di piring kamu
50. ketika denger kata weekend, kamu langsung mikirin tidur
51. kantin pada tutup pas kamu sampe dan buka pas kamu baru aja ninggalin studio
52. kamu pergi ke kantin dan bilang ke pelayannya menu biasa dan mereka langsung ngerti
53. temen kamu baru bangun dan bersiap-siap mau ke kampus, sedangkan kamu udah stay tune disana
55. kamu mengakui bahwa kamu ga ada kehidupan lain
56. kamu nyebut studio sebagai Real World
57. kamu pergi ke luar kota bahkan ke luar negeri hanya buat foto-foto bangunan-bangunan disana
58. kamu ga inget tanggal, hari dan bulan. kamu bingung kapan hari ini dan besok. yang kamu inget cuma deadline ngumpul tugas
59. kamu denger orang bilang bukannya kamu make baju itu kemaren sama kemarennya lagi ya?
60. temen kosan kamu ngedaftarin kamu ke DAFTAR ORANG HILANG
61. kamu ngitung berapa hari (bukan jam) kamu masih bangun
62. kamu berharap 1 hari = 48 jam atau lebih
63. kamu pergi ke minimarket tiap malam buat beli enam botol minuman energi
64. kamu hanya bisa nulis enam lembar paper dalam satu semester
65. pulang ke rumah hanya terjadi beberapa kali dalam satu semester
66. kamu ngeliat ada kemiripan antara kamu dengan panda (lingkeran item dibawah mata)
67. kamu mulai menggunakan kata-kata yang dosen kamu gunakan
68. tempat tidur kamu udah mulai koleksi sarang laba-laba
69. konsep tentang waktu bukan lagi maju ke depan, tapi malah ngitung mundur sejak proyek dikerjain (jam berapa sih sekarang? oh, udah empat jam)
70. kamu mikirin tentang bunuh diri tiga kali sehari
71. ngerjain maket sepanjang malam adalah hal yang menyenangkan dan tangan yang berdarah-darah karena kepotong cutter adalah hal lumrah
72. kamu lebih akrab sama temen-temen di studio ketimbang temen kosan atau sodara-sodara di rumah
73. file sent messages di ponsel kamu kebanyakan untuk temen-temen studio
74. kamu ngabisin waktu lebih banyak di studio daripada pacaran
75. kamu ga tau siapa yang menang di pemilihan presiden dan baru tau beberapa bulan setelahnya
76. kamu make penggaris sebagai ganti bat buat maen ping pong
77. kamu ngetes lem mana yang merekat lebih cepat pas buat maket
78. orang nanya jurusan kamu dan kamu jawab ARCHITORTURE (torture = penyiksaan)
79. ga bisa gambar tanpa dengerin musik
80. seseorang bilang ikan dan yang kamu pikirin adalah Louis I.Kahn
81. kamu ga yakin hari apa hari ini
82. manusia-manusia yang online di messenger kamu pas tengah malam kebanyakan temen-temen studio
83. kamu tidur dari hari ini sampe besok ketika presentasi desain udah beres
84. ketika orang bertanya-tanya kenapa anak arsi sedemikian ribet ngurusin tugas padahal cuma satu mata kuliah. seandainya mereka tau kalo satu mata kuliah itu bebannya 6, 8 dan 10 SKS
85. semua permukaan datar selalu dibayangkan sebagai tempat yang kondusif untuk tidur
86. pacaran sesama anak arsi merupakan ide yang bagus karena dia mungkin bisa bantuin kamu nugas
87. buku-buku yang kamu baca lebih banyak nampilin gambar ketimbang kata-kata
88. kamu nyetel tiga atau lebih jam weker di kamar
89. kamu memasang stiker di depan studio atau kamar yang bertuliskan JANGAN GANGGU MAHASISWA ARSITEK YANG LAGI TIDUR KECUALI KALO NGANTERIN MAKANAN ATAU BARANG GRATISAN
90. mulai menderita flu menjelang evaluasi
91. ketika temen kamu nanya, eh, mau kemana? kuliah malem ya?, terus kamu jawab iya nih, NGULI-AH dulu
92. kamu menunda kegiatan lain karena terlalu banyak yang harus dikerjain di studio
93. ketika menulis adalah kegiatan asing bagi kamu
94. ketika kamu ga sengaja membuat coretan garis ga berguna di kertas gambar karena ketiduran
95. ketika kamu bahkan bisa tidur pas lagi buang air besar
96. ketika kamu berkhayal indahnya hidup jika kamu kuliah di jurusan lain
97. ketika kamu sering mengeluh sakit punggung dan sakit leher
98. ketika ada yang tiba-tiba menghampiri kamu dan bilang eh, jenggot kamu lucu juga! dan kamu baru sadar kalo ga cukuran selama satu semester
99. ketika kamu menyusun kalender untuk menyelesaikan tiap detail pekerjaan proyek kamu
100. ketika temen kamu bosen dengerin alesan kamu yg ga bisa diajak jalan karena nugas
101. ketika kamu puny nama panggilan untuk komputer, laptop, printer dan semua perlengkapan gambar. bahkan kamu sering mengajak mereka ngobrol dengan memanggil nama panggilannya. eh eh, Leppie (panggilan buat laptop), gue pengen beli prisma color yang warna turqouise deh, tapi katanya harganya udah naik ya?
102. ketika setiap jam terbuang karena kamu tidur, sebanyak itu juga kamu nambah kopi
103. ketika kamu mencoba untuk ngobrol dengan orang lain dan nyadar kalo kamu punya bahasa sendiri dan ga seorang pun ngerti bahasa kamu
104. rasa penyesalan terbesar adalah ketika ga sengaja ketiduran beberapa menit di depan laptop
105. ketika demam tinggi lebih dari 40 derajat ga bisa dijadiin alasan buat ninggalin kerjaan
106. ketika semua tugas-tugas itu jadi lebih berharga daripada nyawa sendiri
107. ketika kamu tahu kalo semua yang tertulis di atas ga berlebihan, bahkan kebanyakan BENER BANGET
perhatian bagi orang-orang yang membaca ini dan punya pacar, sahabat, anak, istri, suami, dll yang kuliah arsitektur :
harap memaklumi kehidupan kami. jangan berprasangka buruk terhadap kami. kami sama sekali tidak bermaksud menjauhkan diri dari kehidupan sosial. kami bukannya sengaja untuk tidak memiliki banyak waktu untuk kalian. ini murni tuntutan akademis. dan satu hal lagi, jangan pernah merendahkan kami karena kami selalu telat memakai toga yang kalian bangga-banggakan itu. harap maklum.
Source: kaskus
3. kamu bawa sikat gigi di ransel kamu
4. pas ada yang nanya nomor telepon kamu, kamu kasih nomor telepon studio
5. kamu gabungin jam makan sehari yang harusnya 3x jadi cuma 1x pas sarapan aja
6. Kratingdaeng dan minuman energi lainnya adalah minuman favorit kamu
7. kamu ngebungkus kado ulang tahun temen make kertas roti, kertas mentega atau kalkir!
8. kalo ibu kamu nanya pengen beli baju atau sepatu apa buat lebaran, kamu jawab ga usah repot-repot, cukup segitiga grid, bergulung-gulung kalkir, pena 0.1-0.5, prisma color dan mistar sablon
10. kamu minum tiga cangkir atau bahkan lebih kopi espresso dalam satu malam
11. kamu dengerin lagu yang sama di radio tiga kali bahkan lebih dalam satu malam
12. kamu tau banget bedanya aroma lem UHU atau FOX
13. kamu bisa hidup tanpa sinar matahari, tanpa berkomunikasi dengan orang-orang atau tanpa makan, tapi kamu bisa mati kalau printer atau plotter kamu mendadak rusak
14. satu-satunya waktu tidur kamu pas mata kuliah umum
15. kamu ngilangin kunci rumah dan baru nyadar minggu depannya
16. kamu tidur lebih dari enam belas jam pas akhir pekan
17. kamu nari-nari kaya orang gila pada jam tiga subuh, walaupun sebenernya kamu sama sekali ga lagi mabok
18. kamu nulis apa aja pake Rotring, Staedtler atau Yoken
19. kamu expert banget kalo make Photoshop, Sketch Up, 3Ds Max sama AutoCAD, tapi kadang-kadang bodoh banget kalo harus pake Excel
20. kamu cuma ambil dua mata kuliah per hari, tapi kamu harus mempelajarinya sepanjang hari
21. kamu lebih banyak ngabisin waktu di studio daripada di rumah
22. orang tua sering komplain karena kamu kayanya kurang rekreasi
23. kamu ninggalin studio cuma buat beli peralatan gambar
24. kamu pernah ga mandi selama seminggu karena kamu pikir mandi adalah pekerjaan sia-sia, membuang waktu dan air
25. kamu sering banget bermimpi tentang maket proyek kamu
26. alih-alih denger kata supermodel, kamu malah langsung mikirin tentang model maket
27. orang tua sama adek kamu yang masih empat belas tahun bahkan punya kehidupan sosial yang lebih baik daripada kamu
28. kamu seneng banget hang out ke Home and Garden Fair.
29. kamu tau semua tempat makan 24 jam di kota kamu
30. waktu tidur temen kamu dalam satu hari kayanya lebih lama dibanding waktu tidur kamu dalam satu minggu
31. lampu-lampu jalan udah dimatiin dan kamu masih bangun
32. kamu keluar jam tiga subuh dan orang-orang pada tau kamu kemana
33. apapun yang kamu makan selalu yang praktis
35. sering kamu ngabisin weekend kamu dengan bikin tugas
36. satu-satunya bangunan di kampus yang masih terang benderang di waktu malam adalah studio
37. kamu bilang ini MASIH jam 12 malem, masih ada waktu untuk ngeberesin semua tugas
38. kamu ga menghiraukan kapan matahari terbit atau tenggelam
39. kamu nanya jam berapa ini?, temen kamu jawab jam 10 terus kamu nanya lagi pagi apa malem?
40. rasanya kamu pengen bunuh kawan sekosan kamu karena dia bilang aduh, gue abis begadang nih belajar sampe jam 12. Kampret banget ga sih ngomong kaya gitu di depan kamu yang ga tidur berhari-hari?
41. ketika ga sengaja jari kamu luka, hal pertama yang kamu pikirin adalah apa gue bisa nyelesain maket dengan tangan terluka gini?
42. kamu jadi ngerti kenapa kebanyakan arsitek tu berkacamata dan berambut putih
43. kamu nyebut nama arsitek-arsitek top dunia seolah-olah mereka temen deket kamu, eh, udah tau belom proyeknya si Tadao atau si Frank atau si Calatrava?
44. kamu bisa dengerin semua koleksi lagu kamu dalam satu malam
45. kamu lebih suka lagu-lagu yang ngingetin kamu tentang studio atau tentang proyek yang kamu kerjain
46. kamu ganti selera musik kamu ke lagu-lagu country atau ballad karena kamu udah bosen dengerin musik POP
47. merek-merek favorit kakak cewek kamu adalah Prada, DNKY, LV, dll. Kamu? Mastex, Staedtler, Pentel, Rotring
48. kamu sering gagal kalo pacaran karena ga ada satu pun orang yang mau menerima kamu atas semua yang kamu lakukan sehari-hari (pacar kalah populer dibanding denah, tampak, potongan, dll)
49. kamu tanpa sengaja suka membuat konsep susunan makanan di piring kamu
50. ketika denger kata weekend, kamu langsung mikirin tidur
51. kantin pada tutup pas kamu sampe dan buka pas kamu baru aja ninggalin studio
52. kamu pergi ke kantin dan bilang ke pelayannya menu biasa dan mereka langsung ngerti
53. temen kamu baru bangun dan bersiap-siap mau ke kampus, sedangkan kamu udah stay tune disana
55. kamu mengakui bahwa kamu ga ada kehidupan lain
56. kamu nyebut studio sebagai Real World
57. kamu pergi ke luar kota bahkan ke luar negeri hanya buat foto-foto bangunan-bangunan disana
58. kamu ga inget tanggal, hari dan bulan. kamu bingung kapan hari ini dan besok. yang kamu inget cuma deadline ngumpul tugas
59. kamu denger orang bilang bukannya kamu make baju itu kemaren sama kemarennya lagi ya?
60. temen kosan kamu ngedaftarin kamu ke DAFTAR ORANG HILANG
61. kamu ngitung berapa hari (bukan jam) kamu masih bangun
62. kamu berharap 1 hari = 48 jam atau lebih
63. kamu pergi ke minimarket tiap malam buat beli enam botol minuman energi
64. kamu hanya bisa nulis enam lembar paper dalam satu semester
65. pulang ke rumah hanya terjadi beberapa kali dalam satu semester
66. kamu ngeliat ada kemiripan antara kamu dengan panda (lingkeran item dibawah mata)
67. kamu mulai menggunakan kata-kata yang dosen kamu gunakan
68. tempat tidur kamu udah mulai koleksi sarang laba-laba
69. konsep tentang waktu bukan lagi maju ke depan, tapi malah ngitung mundur sejak proyek dikerjain (jam berapa sih sekarang? oh, udah empat jam)
70. kamu mikirin tentang bunuh diri tiga kali sehari
71. ngerjain maket sepanjang malam adalah hal yang menyenangkan dan tangan yang berdarah-darah karena kepotong cutter adalah hal lumrah
72. kamu lebih akrab sama temen-temen di studio ketimbang temen kosan atau sodara-sodara di rumah
73. file sent messages di ponsel kamu kebanyakan untuk temen-temen studio
74. kamu ngabisin waktu lebih banyak di studio daripada pacaran
75. kamu ga tau siapa yang menang di pemilihan presiden dan baru tau beberapa bulan setelahnya
76. kamu make penggaris sebagai ganti bat buat maen ping pong
77. kamu ngetes lem mana yang merekat lebih cepat pas buat maket
78. orang nanya jurusan kamu dan kamu jawab ARCHITORTURE (torture = penyiksaan)
79. ga bisa gambar tanpa dengerin musik
80. seseorang bilang ikan dan yang kamu pikirin adalah Louis I.Kahn
81. kamu ga yakin hari apa hari ini
82. manusia-manusia yang online di messenger kamu pas tengah malam kebanyakan temen-temen studio
83. kamu tidur dari hari ini sampe besok ketika presentasi desain udah beres
84. ketika orang bertanya-tanya kenapa anak arsi sedemikian ribet ngurusin tugas padahal cuma satu mata kuliah. seandainya mereka tau kalo satu mata kuliah itu bebannya 6, 8 dan 10 SKS
85. semua permukaan datar selalu dibayangkan sebagai tempat yang kondusif untuk tidur
86. pacaran sesama anak arsi merupakan ide yang bagus karena dia mungkin bisa bantuin kamu nugas
87. buku-buku yang kamu baca lebih banyak nampilin gambar ketimbang kata-kata
88. kamu nyetel tiga atau lebih jam weker di kamar
89. kamu memasang stiker di depan studio atau kamar yang bertuliskan JANGAN GANGGU MAHASISWA ARSITEK YANG LAGI TIDUR KECUALI KALO NGANTERIN MAKANAN ATAU BARANG GRATISAN
90. mulai menderita flu menjelang evaluasi
91. ketika temen kamu nanya, eh, mau kemana? kuliah malem ya?, terus kamu jawab iya nih, NGULI-AH dulu
92. kamu menunda kegiatan lain karena terlalu banyak yang harus dikerjain di studio
93. ketika menulis adalah kegiatan asing bagi kamu
94. ketika kamu ga sengaja membuat coretan garis ga berguna di kertas gambar karena ketiduran
95. ketika kamu bahkan bisa tidur pas lagi buang air besar
96. ketika kamu berkhayal indahnya hidup jika kamu kuliah di jurusan lain
97. ketika kamu sering mengeluh sakit punggung dan sakit leher
98. ketika ada yang tiba-tiba menghampiri kamu dan bilang eh, jenggot kamu lucu juga! dan kamu baru sadar kalo ga cukuran selama satu semester
99. ketika kamu menyusun kalender untuk menyelesaikan tiap detail pekerjaan proyek kamu
100. ketika temen kamu bosen dengerin alesan kamu yg ga bisa diajak jalan karena nugas
101. ketika kamu puny nama panggilan untuk komputer, laptop, printer dan semua perlengkapan gambar. bahkan kamu sering mengajak mereka ngobrol dengan memanggil nama panggilannya. eh eh, Leppie (panggilan buat laptop), gue pengen beli prisma color yang warna turqouise deh, tapi katanya harganya udah naik ya?
102. ketika setiap jam terbuang karena kamu tidur, sebanyak itu juga kamu nambah kopi
103. ketika kamu mencoba untuk ngobrol dengan orang lain dan nyadar kalo kamu punya bahasa sendiri dan ga seorang pun ngerti bahasa kamu
104. rasa penyesalan terbesar adalah ketika ga sengaja ketiduran beberapa menit di depan laptop
105. ketika demam tinggi lebih dari 40 derajat ga bisa dijadiin alasan buat ninggalin kerjaan
106. ketika semua tugas-tugas itu jadi lebih berharga daripada nyawa sendiri
107. ketika kamu tahu kalo semua yang tertulis di atas ga berlebihan, bahkan kebanyakan BENER BANGET
perhatian bagi orang-orang yang membaca ini dan punya pacar, sahabat, anak, istri, suami, dll yang kuliah arsitektur :
harap memaklumi kehidupan kami. jangan berprasangka buruk terhadap kami. kami sama sekali tidak bermaksud menjauhkan diri dari kehidupan sosial. kami bukannya sengaja untuk tidak memiliki banyak waktu untuk kalian. ini murni tuntutan akademis. dan satu hal lagi, jangan pernah merendahkan kami karena kami selalu telat memakai toga yang kalian bangga-banggakan itu. harap maklum.
Source: kaskus
Langganan:
Postingan (Atom)






